Al-Qur'an Sunnah Dipublikasikan pada
24 May 2012 Hits: 761
إِنَّالْحَمْدَ
لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ
اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
يَا
أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا
وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ
اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا
أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ
اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛
فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ
هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Jama’ah Jum’at rahimakumullah
Setiap muslim pasti bersaksi, mengakui bahwa Muhammad
adalah hamba dan Rasulullah, tapi tidak semua muslim memahami hakikat yang
benar dari makna syahadat Muhammad Rasulullah, dan juga tidak semua muslim
memahami tuntutan dan konsekuensi dari syahadat tersebut. Fenomena inilah yang
mendorong khatib untuk menjelaskan makna yang benar dari syahadat Muhammad
Rasulullah dan konsekuensinya.
Makna dari syahadat Muhammad Rasulullah adalah pengakuan lahir batin dari seorang
muslim bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, Abdullah wa Rasuluhu
yang diutus untuk semua manusia sebagai penutup rasul-rasul sebelumnya.
Kaum muslimin rahimakumullah
Dari makna di atas bisa dipetik bahwa yang terpenting
dari syahadat Muhammad Rasulullah adalah dua hal yaitu: Bahwa Muhammad itu
adalah abdullah (hamba Allah) dan Muhammad itu rasulullah. Dua
hal ini merupakan rukun syahadat Muhammad Rasulullah.
“Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu,
yang diwahyukan kepadaku.” (Al Kahfi; 110).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: Dalam ayat di atas Allah
memerintahkan NabiNya untuk mengumumkan kepada manusia bahwa saya hanyalah
seorang hamba sama dengan kalian, bukan Rabb (Tuhan).
إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُوْلُوْا
عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.
“Saya hanya seorang hamba, maka katakanlah hamba Allah dan RasulNya”.
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Syaikh Al-Utsaimin berkata: Saya hanyalah hamba yakni saya tidak punya hak
dalam rububiyah dan juga dalam hal-hal yang menjadi keistimewaan Allah.
Kaum muslimin rahimakumullah
Keyakinan bahwa Muhammad adalah hamba Allah menuntut
kepada kita untuk mendudukkan beliau di tempat yang semestinya, tidak
melebih-lebihkan beliau dari derajat yang seharusnya sebab beliau hanyalah
seorang hamba yang tidak mungkin naik derajatnya menjadi Rabb.
Dari sini termasuk kesesatan jika ada yang ber-isti’anah,
ber-istighatsah, memohon kepada Nabi untuk mendatangkan manfaat dan
menolak mudharat sebab hal itu adalah hak mutlak Allah sebagai Rabb.
"Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak kuasa
mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu
kemanfaatan". (Al-Jin; 21).
Kemudian syahadat “Muhammad Rasulullah” menuntut kita
untuk mengimani risalah yang beliau sampaikan, beribadah dengan syariat yang
beliau bawa, tidak mendustakan, tidak menolak apa yang beliau ucapkan maupun
yang beliau lakukan.
Jama'ah Jum'at rahimakumullah
Seorang Muslim yang beriman bahwa Muhammad adalah hamba
dan Rasul Allah, dituntut untuk mewujudkan beberapa hal sebagai bukti kebenaran
keimanannya.
Hal hal yang wajib diwujudkan sebagai konsekuensi
syahadat Muhammad Rasulullah adalah:
1. Membenarkan semua berita yang shahih dari Rasul Allah 'azzawajalla.
Muhammad adalah Rasulullah yang diistimewakan dari
manusia lainnya dengan wahyu, maka jika Beliau memberitakan berita masa lalu
maupun berita masa depan maka berita itu sumbernya adalah wahyu yang
kebenarannya tidak boleh ragukan lagi.
Di antara berita-berita dari Rasulullah yang wajib kita
terima adalah: Berita tentang tanda-tanda hari kiamat, seperti munculnya
dajjal, turunnya Nabi Isa, terbitnya matahari dari barat, berita tentang
pertanyaan di alam kubur; Adzab dan nikmat kubur, begitu juga berita tentang
datangnya malaikat maut dalam bentuk manusia kepada Nabi Musa untuk mencabut
nyawanya lalu Nabi Musa menamparnya hingga rusak salah satu matanya.
Semua berita di atas dan juga berita-berita lain yang
berasal dari hadits-hadits shahih, wajib kita percayai, jangan sekali-kali kita
dustakan dengan alasan berita itu bertentangan dengan akal sehat atau
bertentangan dengan zaman.
2. Mentaati Rasulullah
Kaum muslimin rahimakumullah
Seorang muslim wajib taat kepada Rasulullah sebagai
perwujudan sikap pengakuan terhadap kerasulan Beliau.
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia
telah mentaati Allah”. (Al-Nisaa’; 80)
Syaikh Abdur Rahman Nasir As Sa'dy berkata: setiap orang
yang mentaati Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam dalam
perintah-perintah dan larangan-larangannya dia telah mentaati Allah, sebab
Rasulullah tidak memerintahkan dan melarang kecuali dengan perintah, syariat
dan wahyu yang Allah turunkan.
Taat kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam
mempunyai dua sisi:
1. Taat dalam perintah dengan menjalankan semua perintahnya, di antara
perintah Beliau yang wajib kita taati adalah: Perintah mencelupkan lalat yang
jatuh dalam minuman atau makanan, mencuci tangan tiga kali sehabis bangun dari
tidur, mengucapkan Basmallah ketika makan, makan dan minum dengan tangan kanan,
shalat berjamaah dan lain-lain.
Sebagian orang menolak perintah Rasulullah Shallallaahu
alaihi wasallam dengan berbagai alasan, misalnya dia menolak
perintah menenggelamkan lalat dengan alasan hal itu menyalahi ilmu kesehatan,
dan perintah itu bersumber dari Rasul sebagai manusia biasa. Sikap ini adalah
godaan syaitan yang bermuara kepada penolakan terhadap sunnah Rasulullah
Shallallaahu alaihi wasallam .
Kaum muslimin rahimakumullah
2. Sisi kedua
dari mentaati Rasul adalah menjauhi larangan Rasulullah, sebab yang dilarang
Rasulullah juga otomatis dilarang oleh Allah, di antara larangan tersebut:
Larangan memakan binatang buas yang bertaring, larangan makan atau minum dengan
bejana emas atau perak, larangan menikahi seorang wanita bersama saudara atau
bibinya, larangan memanjangkan kain (sarung atau celana) di bawah mata kaki,
larangan melamar di atas lamaran orang lain, larangan menjual atau membeli di
atas penjualan atau pembelian orang lain, dan larangan-larangan yang lain,
semua wajib dijauhi.
Termasuk beberapa hal yang sudah diletakkan oleh
Rasulullah sebagai rukun, syarat dan batasan.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya
maka jauhilah”. (Al-Hasyr: 7).
Jamaah Jum'at rahimakumullah.
Konsekuensi yang ketiga: Berhukum kepada sunnah Rasul
Allah.
Syahadat Muhammad Rasulullah yang benar akan membawa
seorang Muslim kepada kesiapan dan keikhlasan untuk menjadikan sunnah
Rasulullah sebagai rujukan, dia pasti menolak jika diajak untuk merujuk kepada
akal, pendapat si A/si B, hawa nafsu, maupun warisan nenek moyang dalam
menetapkan suatu hukum, lebih-lebih jika terjadi ikhtilaf (perbedaan),
seorang Muslim yang konsekwen dengan syahadatnya dengan lapang dada akan menjadikan
sunnah Rasulullah sebagai imamnya.
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sehingga mereka
menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan,
dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisaa'; 65).
Syaikh As-Sa'dy berkata: Allah bersumpah dengan diriNya
yang mulia bahwa mereka tidak beriman sehingga mereka menjadikan RasulNya
sebagai hakim dalam masalah-masalah yang mereka perselisihkan. Lanjut beliau;
Dan berhukum ini belum dianggap cukup sehingga mereka menerima hukumnya dengan
lapang dada, ketenangan jiwa dan kepatuhan lahir batin.
Jamaah Jum'at rahimakumullah
Haruslah diketahui bahwa sikap penolakan terhadap hukum
Rasulullah dalam masalah-masalah ikhtilaf adalah termasuk sifat kaum munafikin.
“Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu
(tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul",
niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangimu dengan sekuat-kuatnya dari
(mendekati) kamu”. (An Nisaa';
61)
Ibnu Abbas berkata: Hampir saja Allah menghujani kalian
dengan batu dari langit. Saya berkata: “Rasulullah telah bersabda begini,
sedangkan kalian berkata (tapi) Abu Bakar dan Umar berkata begitu”.
As-Syaikh Al-Utsaimin berkata: “Jika seseorang
mengguna-kan ucapan Abu Bakar dan Umar untuk menentang sabda Rasul bisa
menyebabkan turunnya siksa; hujan batu, maka apa dugaanmu dengan orang yang
menentang sabda Rasul dengan ucapan orang yang jauh di bawah derajat keduanya, tentu
saja dia lebih berhak mendapat siksa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar