Dipublikasikan pada 25 November 2010
Hits: 2683
Khutbah yang pertama
Wahai para hamba Allah, sidang
jum’at yang dimuliakan oleh Allah …
Al-Imam Muslim telah meriwayatkan
dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
إِنّ
الْعَبْدَ إِذَا
وُضِعَ فِي قَبْرِهِ، وَتَوَلّىَ عَنْهُ
أَصْحَابُهُ، إِنّهُ
لَيَسْمَعُ قَرْعَ
نِعَالِهِمْ. يَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولاَنِ لَهُ:
مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرّجُلِ ؟
أَشْهَدُ أَنّهُ
عَبْدُ اللّهِ وَرَسُولُهُ. قَالَ: فَيُقَالُ لَهُ:
“انْظُرْ إِلَىَ
مَقْعَدِكَ مِنَ
النّارِ. قَدْ
أَبْدَلَكَ اللّهُ
بِهِ مَقْعَداً مِنَ
الْجَنّةِ” قَالَ
نَبِيّ اللّهِ صلى
الله عليه وسلم:
“فَيَرَاهُمَا جَمِيعاً”.
“Sesungguhnya seorang hamba bila diletakkan di dalam kuburnya
dan para pengantarnya telah kembali pulang, sunggguh dia akan mendengarkan
gesekan sandal-sandal mereka. Datang kepadanya dua malaikat, maka keduanya
mendudukkannya dan bertanya kepadanya, ‘Apa pendapatmu tentang orang ini (yakni
nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam)? Adapun seorang yang mukmin
akan menjawab, ’Aku bersaksi bahwasanya dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya’.
Maka dinyatakan kepadanya, ‘Lihatlah kepada tempatmu di neraka, sungguh telah
digantikan oleh Allah dengan sebuah tempat di surga.” Maka Nabi Allah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kemudian dia melihat kedua tempat
tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ma’asyirol
muslimin rohimakumullah…
Hadits
ini menceritakan kepada kita bagaimana ‘pertanyaan yang terjadi di alam kubur’.
Adapun orang-orang yang beriman akan dikokohkan oleh Allah sewaktu mereka
ditanya di dalam kubur masing-masing. Itulah yang dinyatakan oleh Allah di
dalam Al-Quran yang mulia:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan
yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (Ibrahim: 27)
Permulaan
dari alam akhirat adalah alam barzakh (alam kubur). Oleh karena itu, seorang
yang beriman akan dikokohkan oleh Allah untuk menjawab pertanyaan kubur,
sebagaimana di dalam hadits yang telah lalu.
Diriwayatkan
oleh Imam Al Bukhari dan Muslim dari hadits Al-Bara’ bin ‘Azib rahimahullah,
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
(الْمُسْلِمُ إِذَا
سُئِلَ فِي الْقَبْرِ: يَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.
فَذَلِكَ قَوْلُهُ: يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ)
“Seorang hamba yang muslim bila ditanya di dalam kuburnya,
niscaya dia akan bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi
dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah. Maka
itulah yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: ‘ Allah meneguhkan (iman)
orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia
dan di akhirat’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Allah
mudahkan baginya untuk menjawab pertanyaan kubur dengan mengucapkan dua kalimat
syahadat ’Laa Ilaha Illallah wa Anna Muhammadan Rasulullah. Perkara yang
akan ditanyakan oleh dua malaikat kepada seorang hamba yang baru saja
meninggal, bila telah selesai dikuburkan, ada tiga hal:
- Pertama: (مَنْ رَبُّكَ) :“Siapa Rabbmu”
- Kedua: (وَمَا دِيْنُكَ); “Apa agamamu”
- Ketiga: (وَمَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِيْ بُعِثَ فِيْكُم) :“Siapa orang yang telah diutus di antara kalian ini?”
Maka
seorang yang mukmin akan menjawab: “Rabku adalah Allah, agamaku adalah Islam,
sedangkan orang ini adalah Muhammad utusan Allah.” Lalu ditanyakan kepadanya:
“Apa yang memberitahumu mengenai jawaban ini?” Dia menjawab: “Aku membaca
Al-Qur’an, beriman kepadanya, dan membenarkannya.”
Dengan demikian, seorang yang mukmin selamat dari siksa kubur karena bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya itu. Berbeda dengan seorang yang kafir ketika ditanya: “Siapa Rabmu? Apa agamamu? Siapa orang yang telah diutus di antara kalian ini?” Dia hanya bisa menjawab: “Ha..ha.. aku tidak tahu.” Inilah keadaan seorang yang kafir sewaktu ditanya di dalam kuburnya.
Dengan demikian, seorang yang mukmin selamat dari siksa kubur karena bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya itu. Berbeda dengan seorang yang kafir ketika ditanya: “Siapa Rabmu? Apa agamamu? Siapa orang yang telah diutus di antara kalian ini?” Dia hanya bisa menjawab: “Ha..ha.. aku tidak tahu.” Inilah keadaan seorang yang kafir sewaktu ditanya di dalam kuburnya.
Itulah
fitnah kubur, yaitu pertanyaan dua malaikat yang dihadapkan kepada seorang yang
baru saja meninggal. Dua malaikat yang menanyai seorang yang baru saja
meninggal disebut dengan Munkar dan Nakir. Sebagaimana hal ini terdapat di
dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Imam
At-Turmudzi dengan sanad yang hasan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
إِذَا قُبِرَ
الْمَيِّتُ، أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ. يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَاْلآخَرُ النَّكِيْرُ
“Apabila seorang hamba telah diletakkan di dalam kuburnya,
datanglah kepadanya dua malaikat yang hitam dan biru. Salah satunya disebut
Al-Munkar dan yang lain disebut An-Nakir.” (HR.
At-Turmudzi dan dihasankan oleh syaikh Al AlBani dalam tahqiqnya atas ”Syarh
Aqidah Thahawiyyah” hal. 399)
Maka
ini adalah nama dua malaikat yang akan menanyai seorang yang baru saja dikubur.
Keduanya akan bertanya tentang “Siapa Rabmu, apa agamamu, dan siapa orang yang
telah diutus di antara kalian ini?” Seorang yang mukmin setelah bisa menjawab
pertanyaan dua malaikat itu, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun
seorang yang kafir, ketika tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan
kepada adzab kubur.
Ma’asyirol
muslimin rohimakumullah…
Di
sini para ulama berselisih pendapat: Apakah pertanyaan kubur hanya khusus pada
umat ini atau juga umum pada umat-umat yang sebelumnya?
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini, bahwa pertanyaan kubur berlaku umum pada seluruh umat dari yang pertama sampai yang terakhir. Pendapat ini telah dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah di dalam kitabnya ”Syarh Lum’atil I’tiqod”( hal. 112)
Kemudian terjadi pula perselisihan di kalangan para ulama: Apakah pertanyaan ini bagi orang-orang yang mukallaf saja atau juga bagi orang-orang yang tidak mukallaf seperti anak kecil dan orang gila yang meninggal?
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini, bahwa pertanyaan kubur berlaku umum pada seluruh umat dari yang pertama sampai yang terakhir. Pendapat ini telah dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah di dalam kitabnya ”Syarh Lum’atil I’tiqod”( hal. 112)
Kemudian terjadi pula perselisihan di kalangan para ulama: Apakah pertanyaan ini bagi orang-orang yang mukallaf saja atau juga bagi orang-orang yang tidak mukallaf seperti anak kecil dan orang gila yang meninggal?
Pendapat
yang paling kuat dalam masalah ini, bahwa pertanyaan kubur mencakup semuanya.
Baik yang mukallaf atau tidak mukallaf. Maka pertanyaan kubur itu juga
diarahkan bagi anak kecil dan orang gila yang meninggal, karena keumuman
dalil-dalil yang berbicara tentang pertanyaan kubur. Demikian pula dikuatkan
dengan dalil bahwa anak kecil atau orang gila yang meninggal dari kalangan
muslimin, diperintahkan kepada kita untuk menshalatkan dan mendoakannya agar
dilindungi oleh Allah dari adzab kubur. Hal ini menunjukkan bahwa mereka juga
mendapatkan ‘pertanyaan kubur’.
Oleh sebab itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Ar-Ruh yang dinisbatkan kepada beliau, menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa pertanyaan kubur berlaku secara umum, baik bagi yang mukallaf maupun tidak.
Oleh sebab itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Ar-Ruh yang dinisbatkan kepada beliau, menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa pertanyaan kubur berlaku secara umum, baik bagi yang mukallaf maupun tidak.
Adapun
mengenai pertanyaan kubur: Apakah khusus bagi kaum mukminin saja atau juga umum
meliputi orang-orang kafir? Menurut pendapat yang paling kuat dikalangan para
ulama, bahwa pertanyaan kubur meliputi kaum mukminin dan orang-orang kafir
secara umum. Banyak dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang mengasumsikan
kepada kita bahwa orang-orang kafir juga akan ditanya oleh dua malaikat di
dalam kubur mereka. Di antaranya adalah hadits yang telah kita bacakan
sebelumnya yaitu hadits Al-Bara’ bin ’Azib yang dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad,
Abu, Dawud, An Nasai, Ibnu Majah dan yang selainnya.
Wallahu a’lam bish shawab
Wallahu a’lam bish shawab
Khutbah
yang kedua
Wahai
para hamba Allah, sidang jum’at yang dimuliakan oleh Allah . . .
Yang
mendapatkan pengecualian dari pertanyaan kubur adalah ‘orang yang mati syahid’.
Sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh
Imam An-Nasai dengan sanad yang shahih. Bahwa salah seorang dari sahabat
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada beliau shallallahu
‘alaihi wasallam dan bertanya: “Wahai Rasulullah! kenapa seluruh kaum
mukminin diuji di dalam kuburnya kecuali orang yang mati syahid?” Maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوْفِ عَلَى
رَأْسِهِ فِتْنُةً
“Cukuplah kilatan pedang yang berada di atas kepalanya sebagai
ujian tersendiri”. (HR. An-Nasai dan dishohihkan oleh
Syaikh Al Albani dalam kitabnya ”Ahkamul Janaiz” hal. 36)
Hadits
ini menunjukkan bahwa orang yang mati syahid tidak diuji, yakni tidak ditanya
oleh dua orang malaikat di dalam kuburnya. Maka ini merupakan pengecualian.
Pengecualian yang lain adalah orang yang meninggal ketika berada di front
terdepan untuk berjaga-jaga dalam jihad fi sabilillah. Kondisi ini diistilahkan
dengan “Al-Murobith fi sabilillah”. Maka orang yang demikian ini, bila
meninggal tidak akan ditanya di dalam kuburnya. Sebagaimana yang diterangkan
dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari sahabat Salman Al-Farisi
radhiallahu ’anhu.
Sekeluarnya dari fitnah kubur, seorang yang meninggal akan memasuki fase yang disebut dengan nikmat kubur atau adzab kubur. Seorang mukmin setelah bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya, maka dia memperoleh nikmat kubur.
Sekeluarnya dari fitnah kubur, seorang yang meninggal akan memasuki fase yang disebut dengan nikmat kubur atau adzab kubur. Seorang mukmin setelah bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya, maka dia memperoleh nikmat kubur.
Kemudian
datang seruan dari langit: “hamba-Ku ini telah benar, Bentangkanlah untuknya
permadani dari surga dan bukakanlah sebuah pintu ke surga”. Harum wangi surga
pun menerpanya dan kuburnya diperluas sejauh mata memandang. Lalu datang
kepadanya seorang yang bagus wajahnya, pakainnya, dan harum wanginya. Orang itu
berkata, bergembiralah dengan segala yang akan menyenangkanmu. Ini adalah hari
yang dahulu engkau telah dijanjikan. Maka si mukmin bertanya kepadanya,
siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa kebaikan. Dia
pun menjawab, aku adalah amalmu yang sholih. Lalu si mukmin berkata, wahai
Robbku! Segerakanlah hari kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku”.
Adapun
seorang yang kafir ketika tidak bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang
datang kepadanya, maka dia dihadapkan kepada adzab kubur. Kemudian datang
seruan dari langit: “dia telah berdusta, bentangkanlah untuknya permadani dari
api neraka dan bukakanlah sebuah pintu ke neraka. Sehingga hawa panas dan racun
neraka pun menerpanya dan kuburnya di persempit sampai tulang-tulang rusuknya
saling bergeser. Lalu datang kepadanya seorang yang buruk wajahnya, pakainnya,
dan busuk baunya. Orang itu berkata, bergembiralah dengan segala yang akan
memperburuk keadanmu. Ini adalah hari yang dahulu engkau telah dijanjikan. Maka
si kafir bertanya, siapakah engkau? Wajahmu dalah wajah yang datang dengan
membawa keburukan. Dia pun menjawab, aku adalah amalmu yang buruk. Lalu si
kafir berkata, wahai Robku! Janganlah engkau datangkan hari kiamat”.
Itulah
keadaan seorang yang mukmin dan seorang yang kafir setelah ditanya di dalam
kuburnya. Seorang yang kafir disiksa karena tidak bisa menjawab pertanyaan
kubur. Namun bukan berarti bahwa setiap mukmin pasti akan terlepas dari adzab
kubur. Seorang mukmin yang bermaksiat kepada Allah berkemungkinan merasakan
adzab kubur, bila Allah tidak berkehendak mengampuni dosanya.
Hal ini diperkuat dengan sebuah hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:
Hal ini diperkuat dengan sebuah hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:
إِنّهُمَا لَيُعَذّبَانِ، وَمَا
يُعَذّبَانِ فِي
كَبِيرٍ، أَمّا
أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ
الْبَوْلِ، ،
وَأَمّا الاَخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنّمِيمَةِ
”Orang-orang yang berada di dalam dua kubur ini, sungguh sedang
disiksa. Dan tidaklah keduanya disiksa karena suatu masalah yang besar. Adapun
salah satu dari keduanya, dahulu tidak mau menjaga diri dari air kencing.
Sedangkan yang lain, dahulu biasa berjalan untuk mengadu domba”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua bagian. Beliau meletakkannya di masing-masing dua kubur ini dengan harapan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingan siksa keduanya, selama pelepah kurma itu masih basah dan belum kering.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua bagian. Beliau meletakkannya di masing-masing dua kubur ini dengan harapan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingan siksa keduanya, selama pelepah kurma itu masih basah dan belum kering.
Ma’asyirol
muslimin rohimakumullah…
Apakah
adzab kubur akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat atau disesuaikan
dengan kadar dosa orang yang disiksa ?
Jawabnya: di antara adzab kubur ada yang akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat dan ada pula yang disesuaikan dengan kadar dosa orang yang disiksa.
Yang akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat adalah adzab kubur bagi orang-orang yang kafir. Di dalam Al-Qur’an, Allah telah menyatakan tentang Fir’aun dan bala tentaranya:
Jawabnya: di antara adzab kubur ada yang akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat dan ada pula yang disesuaikan dengan kadar dosa orang yang disiksa.
Yang akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat adalah adzab kubur bagi orang-orang yang kafir. Di dalam Al-Qur’an, Allah telah menyatakan tentang Fir’aun dan bala tentaranya:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ
فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, serta
pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir`aun
dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”.
(Al-Mukmin (Ghafir): 46)
Dari
ayat ini, ulama menyimpulkan bahwa adzab kubur bagi orang-orang yang kafir akan
berlangsung sampai terjadinya hari kiamat.
Dalil yang lain adalah hadits Al-Bara` bin ’Azib yang sebelumnya telah kita bacakan, pada sebuah riwayatnya disebutkan: “Bahwasanya tatkala seorang yang kafir tidak bisa menjawab pertanyaan dua malaikat itu, maka kepadanya dinampakkan tempatnya di dalam neraka, dan perkara ini akan berlangsung sampai hari kiamat”.
Dalil yang lain adalah hadits Al-Bara` bin ’Azib yang sebelumnya telah kita bacakan, pada sebuah riwayatnya disebutkan: “Bahwasanya tatkala seorang yang kafir tidak bisa menjawab pertanyaan dua malaikat itu, maka kepadanya dinampakkan tempatnya di dalam neraka, dan perkara ini akan berlangsung sampai hari kiamat”.
Adapun
adzab kubur yang berlangsung sesuai dengan kadar dosa orang yang disiksa adalah
adzab kubur yang ditimpakan kepada para pelaku dosa besar. Allah akan
menyiksanya di dalam kubur sesuai dengan kadar dosanya, kemudian akan
diperingan dan tidak akan berlangsung sampai terjadi hari kiamat.
Wallahu
a’lam bi shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar