Tedy Haryono Dipublikasikan pada 08
June 2012 Hits: 711
إِنَّالْحَمْدَ
لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ
اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
يَا
أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا
وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ
اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا
أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ
اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛
فَإِنْ
خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Segala puji bagi Allah Subhannahu wa
Ta'ala yang telah melimpahkan karunia dan rahmatNya sehingga kita dapat
menjalankan salah satu kewajiban yang diwajibkan kepada kaum Muslimin yaitu
Shalat Jum’at berjama’ah.
Shalawat serta salam, semoga
tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam , sahabat,
keluarga dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Jama’ah Jum’at
rahimakumullah
Khatib berdiri di mimbar ini, ingin
berwasiat kepada diri khatib sendiri secara khusus dan kepada jama’ah secara
umum, yaitu bersama-sama meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Subhannahu wa
Ta'ala . Bertaqwa kepada Allah di mana saja kita berada sebagaimana sabda
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا. ; رواه أحمد
“Bertaqwalah kepada Allah di mana
saja kamu berada, iringilah perbuatan jelek, dengan perbuatan baik niscaya akan
menghapuskannya.” (HR. Ahmad 5/153).
Hadits di atas menerangkan bahwa
dosa-dosa kecil dapat dihapus dengan mengerjakan amalan yang baik dan benar.
Dosa yang sudah berjangkit di kalangan masyarakat ini sangatlah banyak dan juga
mereka menganggapnya itu hal biasa dan
lumrah.
Hal yang demikian tidak bisa
ditinggalkan karena gunung yang begitu besar terdiri dari kerikil-kerikil
kecil, jika dosa kecil ditumpuk maka akan menjadi besar seperti gunung.
Jama’ah Jum’at
rahimakumullah
Banyak sekali amalan yang dapat
menjerumuskan ke dalam dosa dengan tidak terasa, tidak sengaja atau kita pernah
menyaksikan atau melakukannya. Di antaranya adalah:
1. Meratapi Jenazah
Kematian pasti akan terjadi pada
setiap makhluk yang bernyawa, namun yang ditinggal mati apakah bisa bersabar
ataukah tidak? Salah satu kemungkinan besar yang dilakukan oleh manusia, jika
ditinggal mati oleh orang yang dicintainya adalah meratapi jenazah. Misalnya
dengan menangis sejadi-jadinya, berteriak-teriak sekeras-kerasnya, memukuli
muka sendiri, mengoyak-ngoyak baju, menggunduli rambut, menjambak-jambak atau
memotongnya. Semua perbuatan tersebut menunjukkan ketidakrelaan terhadap
taqdir, disamping menunjukkan tidak sabar terhadap musibah.
Nabi Muhamamad Shallallaahu alaihi
wa Salam mengecam orang yang melakukan ratapan berlebihan kepada mayit.
Dan Dari Abdullah bin Mas ‘ud
Radhiallaahu anhu meriwayatkan:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ
الْخُدُوْدَ وَشَقَّ الْجُيُوْبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ. ; رواه
البخاري، انظر فتح الباري3/163
“Tidak termasuk golongan kami yang
menampar pipi, merobek-robek baju dan yang meratap dengan ratapan jahiliyah.”
(HR. Al-Bukhari, Fathul Bary 3/163).
Sedih dan berduka cita atas
kepergian orang yang dicintai adalah wajar namun tidak boleh berlebihan
sebagaimana hal yang di atas tadi. Bersabar dan menerima terhadap musibah
adalah lebih baik dan lebih mulia karena semuanya terjadi atas kehendak Allah
Subhannahu wa Ta'ala . Dan ini semua telah digariskan olehNya sehingga manusia
tinggal menjalani apa yang sudah menjadi ketentuannya.
2. Menginjak Dan Duduk Di atas
Kuburan
Ketika mengiring jenazah atau
berziarah kubur, sebagian orang ada yang tidak memperhatikan jalan yang mesti
dilaluinya, sehingga disana sini menginjak-injak kuburan dengan tanpa rasa
hormat sedikitpun kepada yang sudah meninggal.
Dan yang menunggu pemakaman jenazah
dengan seenaknya duduk di atas kuburan, pemandangan seperti ini sering terlihat
di masyarakat, padahal Rasullah Shallallaahu alaihi wa Salam mengancam akan hal
yang semacam itu.
Abu Hurairah Radhiallaahu anha
berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
لأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى
جَمْرَةٍ فَتَحْرِقُ ثِياَبَهُ فَتَخَلَّصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ
يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ. ; رواه مسلم، 2/667
“Sungguh
seseorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga terbakar bajunya hingga
tembus ke kulitnya, hal itu lebih baik baginya daripada duduk di atas kuburan.”
(HR. Muslim 2/667).
3. Mencari Berkah di Kuburan
Kepercayaan bahwa para wali yang
telah meninggal dunia dapat memenuhi hajat, serta membebaskan manusia dari
berbagai kesulitan adalah syirik. Karena kepercayan ini, mereka lalu meminta
pertolongan dan bantuan kepada para wali yang telah meninggal dunia. Padahal
mereka meminta tolong kepada Allah dalam setiap shalatnya namun dalam
prakteknya mereka meminta realisasinya kepada selain
Allah.
Firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Hanya kepadaMu-lah kami menyembah dan hanya kepadaMu-lah kami meminta pertolongan.” (Al-Fatihah: 5).
“Hanya kepadaMu-lah kami menyembah dan hanya kepadaMu-lah kami meminta pertolongan.” (Al-Fatihah: 5).
Termasuk dalam katagori menyembah
kuburan adalah memohon kepada orang-orang yang telah meninggal, baik para nabi,
orang-oarng shalih atau lainnya untuk mendapatkan syafa’at atau melepaskan diri
dari berbagai kesukaran hidup.
Sebagian mereka, bahkan membiasakan
dan mentradisikan menyebut nama syaikh atau wali tertentu, baik dalam keadaan
berdiri maupun duduk atau ketika ditimpa musibah atau kesukaran
hidup.
Di antaranya ada yang menyeru: Wahai
Muhammad “. Ada lagi yang menyebut “Wahai Ali” Yang lainnya menebut: Wahai
Syaikh” atau Wahai Syaikh Abdul Qadir Jaelani”, Kemudian ada yang menyebut:
“Wahai Syadzali”. Dan masih banyak lagi sebutan
lainnya.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman
dalam Surat Al-A’raaf:
“Sesungguhnya orang-orang yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa dengan kamu”. (Al-A’raaf: 194).
“Sesungguhnya orang-orang yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa dengan kamu”. (Al-A’raaf: 194).
Sebagian penyembah kuburan ada yang
berthawaf (menge-lilingi) kuburan tersebut, mencium setiap sudutnya ada juga
yang mencium pintu gerbang kuburan dan melumuri wajahnya dengan tanah dan debu
dari kuburan sebagian ada yang bersujud ketika memandangnya, berdiri didepannya
dengan penuh khusyu, merendahkan diri dan menghinakan diri seraya mengajukan
permintaan dan memohon hajat.
Jamaah Jum’at
Rahimakumullah
Mencari berkah di kuburan tidaklah
asing bagi sebagian orang lebih-lebih di masa sekarang ini dimana kebutuhan
yang penting harus dipenuhi namun jalan untuk mengaisnya sangatlah sulit
kemudian mereka memakai jalan pintas yaitu dengan bersemedi dan tafakur di
kuburan dengan harapan akan dibukakan jalan baginya. Kemudian ada yang meminta
sembuh dari sakit, mendapatkan keturunan, digam-pangkan urusannya dan tak
jarang di antara mereka yang menyeru: Ya Sayyidy aku datang kepadamu dari
negeri yang jauh maka janganlah engkau kecewakan aku “ Dan ada juga yang
mengatakan “Ya Sayyidy aku ini adalah hamba yang hina dina dan engkau hamba
yang mulia maka sampaikanlah hajat hamba kepada
Tuhanmu”
Allah Subhannahu wa Ta'ala
berfirman:
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyem-bah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat mengabulkan (do’a)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhati-kan do’a mereka.” (Al- Ahqaf: 5).
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyem-bah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat mengabulkan (do’a)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhati-kan do’a mereka.” (Al- Ahqaf: 5).
Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa
Salam besabda:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ
دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ. ; رواه البخاري
“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah
niscaya akan masuk kedalam Neraka” (HR. Al-Bukhari,
8/176).
Sebagian mereka, mencukur rambutnya
di pekuburan dan ada yang membawa buku yang berjudul: Manasikul Hajjil
Masyahid” (Tata cara Beribadah Haji di Kuburan Keramat), sebelum mereka
menunaikan ibadah haji ditanah suci Mekkah, mereka terlebih dahulu menunaikan
haji di Tanah Pekuburan Keramat.
Jamaah Jum’at yang
berbahagia
Berdasarkan uraian di atas maka
dapat kita ambil kesimpulan bahwa fitnah kuburan dan mayit telah menjadi
tradisi dan adat bagi masyarakat kita sekarang
ini.
Dan oleh sebab itu kami mengajak
saudara-saudara kaum Muslimin untuk bersama-sama meninggalkan hal tersebut
dengan penuh keikhlasan kepada Allah. Dan kita meminta kepada Allah semoga
saudara-saudara kita yang masih melakukan hal itu dapat dibukakan pintu hatinya
untuk menerima kebenaran.
Akhiru da’wana ‘anil hamdu lillahi rabbil ‘alamin.
Akhiru da’wana ‘anil hamdu lillahi rabbil ‘alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar