Al-Qur'an Sunnah Dipublikasikan pada
08 March 2012 Hits: 1856
KHUTBAH
PERTAMA:
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Hadirin Sidang Jum’at yang Terhormat..
Allah Ta’ala berfirman,
Allah Ta’ala berfirman,
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tiada suatu ucapan pun yang
diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaf: 18).
Sesungguhnya lisan merupakan salah
satu nikmat Allah yang amat besar dan salah satu ciptaan Allah yang
menakjubkan. Bentuknya kecil, namun perannya besar dalam ketaatan dan
kemaksiatan. Bahkan kekufuran dan keimanan tidak bisa diketahui dengan jelas
kecuali dengan persaksian lisan, padahal keduanya merupakan puncak dari
ketaatan dan kemaksiatan.
Hadirin Sidang Jum’at yang Terhormat
Lisan merupakan salah satu ayat-ayat Allah. Dia berfirman,
Lisan merupakan salah satu ayat-ayat Allah. Dia berfirman,
وَلِسَاناً وَشَفَتَيْنِ وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
"Lidah dan dua buah bibir. Dan
Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan." (Al-Balad: 9-10).
Lisan adalah raja atas semua anggota tubuh. Semua tunduk dan patuh kepadanya. Jika ia lurus, niscaya semua anggota tubuh ikut lurus. Jika ia bengkok, maka bengkoklah semua anggota tubuh.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Lisan adalah raja atas semua anggota tubuh. Semua tunduk dan patuh kepadanya. Jika ia lurus, niscaya semua anggota tubuh ikut lurus. Jika ia bengkok, maka bengkoklah semua anggota tubuh.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُوْلُ: اِتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اِعْوَجَجْنَا.
"Apabila anak cucu Adam masuk
waktu pagi hari, maka seluruh anggota badan tunduk kepada lisan, seraya
berkata, 'Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami, karena kami
mengikutimu, apabila kamu lurus, maka kami pun lurus, dan apabila kamu bengkok,
maka kami pun bengkok'."
(HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).
Seorang manusia bisa masuk surga
disebabkan lisannya. Apabila benar lisannya, maka dia akan mendapatkan pahala,
dan sebaliknya bila salah maka dia mendapatkan dosa. Lisan manusia bisa
mewujudkan dzikir, tasbih, dan tahlil, atau membaca al-Qur`an, atau ucapan amar
ma'ruf nahi munkar, berbuat baik kepada manusia, dan mengajak mereka kepada
kebaikan. Lisan adalah salah satu nikmat Allah jika dipergunakan oleh hamba
untuk kebaikan, petunjuk, dan keshalihan.
Kaum Muslimin yang Berbahagia
Lisan memang senang mengembara ke tempat yang tak bertujuan, lahannya luas tiada terbatas dan bertepi. Ia memiliki peran yang besar di dalam lahan kebajikan, dan juga di dalam keburukan. Maka barangsiapa yang mengumbar lisannya dengan bebas dan tidak mau mengendalikannya, maka setan akan menggiringnya ke dalam segala sesuatu yang dia ucapkan. Lalu menyeretnya ke jurang kehancuran, dan selanjutnya jatuh ke dalam kebinasaan.
Lisan memang senang mengembara ke tempat yang tak bertujuan, lahannya luas tiada terbatas dan bertepi. Ia memiliki peran yang besar di dalam lahan kebajikan, dan juga di dalam keburukan. Maka barangsiapa yang mengumbar lisannya dengan bebas dan tidak mau mengendalikannya, maka setan akan menggiringnya ke dalam segala sesuatu yang dia ucapkan. Lalu menyeretnya ke jurang kehancuran, dan selanjutnya jatuh ke dalam kebinasaan.
Tidak seorang pun dapat selamat dari
tergelincirnya lisan kecuali orang yang mau mengendalikannya dengan tali kekang
syariat, sehingga lisannya tidak mengucapkan kecuali sesuatu yang memberi
manfaat di dunia dan akhirat. Ketika Aisyah berkata kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam,
حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا، تَعْنِيْ قَصِيْرَةً، فَقَالَ: لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ.
"Cukuplah bagi Anda bahwa
Shafiyah itu orangnya begini, begini." Maksudnya tubuhnya pendek. Maka
Nabi bersabda kepadanya, "Engkau telah mengucapkan suatu perkataan yang
bila dicampur dengan air laut niscaya dia akan merubahnya." (HR. Abu Dawud).
Imam an-Nawawi yang wafat pada tahun
676 H. berkata, "Ketahuilah bahwa setiap mukallaf harus menjaga lisannya
dari semua perkataan kecuali perkataan yang maslahat di dalamnya telah jelas.
Dan ketika perkataan itu mubah, sedangkan dalam meninggalkannya terdapat
maslahat maka disunnahkan untuk menahan diri darinya. Karena terkadang
perkataan yang mubah akan terseret menuju keharaman atau kemakruhan, bahkan ini
menjadi hal yang umum di dalam adat kebiasaan, sedangkan keselamatan maka tidak
ada sesuatu pun yang menyamainya."
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.
"Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Saya berkata, "Hadits yang
disepakati keshahihannya ini merupakan nash yang sharih, bahwasanya tidak
seharusnya seseorang berbicara melainkan apabila perkataan tersebut baik, yaitu
yang tampak jelas maslahatnya, dan ketika ragu tentang kejelasan maslahatnya,
maka janganlah berbicara."
Al-Imam asy-Syafi'i berkata,
"Apabila seseorang ingin berbicara, maka hendaklah dia berpikir terlebih
dahulu sebelum berbicara, apabila telah jelas maslahatnya, maka dia berbicara,
dan apabila ragu-ragu, maka dia tidak berbicara sampai jelas maslahatnya."
Al-Imam asy-Syafi'i juga pernah berpesan kepada muridnya ar-Rabi', "Wahai
ar-Rabi', janganlah kamu berbicara tentang perkara yang tidak penting bagimu,
karena apabila kamu berbicara satu kata, maka ia akan memilikimu, sedangkan
kamu tidak dapat memilikinya."
Dan kami meriwayatkan dalam Shahih
al-Bukhari: Dari Sahal bin Sa'ad Radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda,
مَنْ يَضْمَنُ لِيْ مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنُ لَهُ الْجَنَّةَ.
"Barangsiapa yang memberikan
jaminan kepadaku (untuk menjaga) kejahatan lisan yang berada di antara dua
tulang rahangnya, dan kejahatan kemaluan yang berada di antara kedua kakinya,
niscaya aku akan memberikan jaminan surga kepadanya." (HR. al-Bukhari).
Dan kami meriwayatkan dari Abdullah
bin Mas'ud Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, "Tidak ada sesuatu pun
yang lebih berhak lama dipenjarakan daripada lisan."
Dan yang lainnya berkata, "Perumpamaan lisan adalah seperti hewan buas, apabila kamu tidak mengikatnya, niscaya dia akan memusuhimu." Dan kami meriwayatkan dari al-Ustadz Abu al-Qasim al-Qusyairi dalam Risalahnya yang terkenal, dia berkata, "Diam pada sesuatu yang telah selamat adalah tindakan utama. Sedangkan diam pada waktunya merupakan sifat (baik) seseorang sebagaimana berbicara pada tempatnya merupakan sebaik-baik tabiat." Dia melanjutkan, "Saya mendengar Abu Ali ad-Daqqaq Rahimahullah berkata,
Dan yang lainnya berkata, "Perumpamaan lisan adalah seperti hewan buas, apabila kamu tidak mengikatnya, niscaya dia akan memusuhimu." Dan kami meriwayatkan dari al-Ustadz Abu al-Qasim al-Qusyairi dalam Risalahnya yang terkenal, dia berkata, "Diam pada sesuatu yang telah selamat adalah tindakan utama. Sedangkan diam pada waktunya merupakan sifat (baik) seseorang sebagaimana berbicara pada tempatnya merupakan sebaik-baik tabiat." Dia melanjutkan, "Saya mendengar Abu Ali ad-Daqqaq Rahimahullah berkata,
مَنْ سَكَتَ عَنِ الْحَقِّ فَهُوَ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ.
'Siapa yang berdiam diri dari
kebenaran, maka dia adalah setan yang bisu'."
Apabila Hari Kiamat tiba, maka
perkataan dan perbuatan seorang hamba telah dihitung. Tiba-tiba salah seorang
hamba mengingkari hal itu seraya berkata, "Wahai Rabb, saya tidak
melakukan ini, saya tidak mengatakan ini." Maka malaikat yang menyaksikan
hal itu berkata, "Aku tidak menerima seseorang menjadi saksi selain diriku
sendiri." Lalu Allah menutup mulutnya, dan semua anggota tubuhnya bersaksi
dan memberikan kesaksian perbuatannya. Tangan menuturkan sesuatu yang dia
kerjakan, kaki melaporkan perjalanannya, mata memberikan kesaksian yang dia
lihat, telinga memberikan kesaksian yang didengarnya, dan kulit memberikan
kesaksian yang dirasakannya. Saat itulah sang hamba berduka cita dan terkejut
serta berkata kepada anggota tubuhnya, "Celaka dan binasalah kalian,
karena kalianlah aku membela diri." Inilah anggota-anggota tubuh yang
tidak lain adalah anggota tubuhmu, akan memberikan kesaksian atas kesalahanmu
di Hari Kiamat. Allah Ta’ala berfirman,
وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاء اللَّهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ. حَتَّى إِذَا مَا جَاؤُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ. وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. وَمَا كُنتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَكِن ظَنَنتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيراً مِّمَّا تَعْمَلُونَ
"Dan (ingatlah) hari (ketika)
musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan (semuanya).
Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit
mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.
Dan mereka berkata kepada kulit mereka, 'Mengapa kamu menjadi saksi terhadap
kami.' Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu
pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang
menciptakan kamu pada kali yang pertama, dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan'.
Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran,
penglihatan, dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak
mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan." (Fushshilat: 19-22).
Ketahuilah bahwa ghibah termasuk perbuatan yang paling buruk dan paling tersebar di antara manusia, sehingga mereka tidak selamat darinya melainkan hanya segelintir orang saja. Batasan ghibah yaitu engkau memperbincangkan saudaramu dengan sesuatu yang jika hal itu didengar atau sampai ke telinganya, maka dia merasa tidak senang, baik itu mengenai badan, nasab, perilaku, perbuatan, ucapan atau dalam urusan agamanya, bahkan sampai pakaian yang dia kenakan, rumah tinggal, dan kendaraannya.
Di dalam Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi dan Sunan an-Nasa`i: dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Ketahuilah bahwa ghibah termasuk perbuatan yang paling buruk dan paling tersebar di antara manusia, sehingga mereka tidak selamat darinya melainkan hanya segelintir orang saja. Batasan ghibah yaitu engkau memperbincangkan saudaramu dengan sesuatu yang jika hal itu didengar atau sampai ke telinganya, maka dia merasa tidak senang, baik itu mengenai badan, nasab, perilaku, perbuatan, ucapan atau dalam urusan agamanya, bahkan sampai pakaian yang dia kenakan, rumah tinggal, dan kendaraannya.
Di dalam Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi dan Sunan an-Nasa`i: dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أَتَدْرُوْنَ مَاالْغِيْبَةُ؟ قَالُوْا: اللهَ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيْلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ.
"Apakah kalian mengetahui,
apakah ghibah itu?" Mereka menjawab, "Allah dan RasulNya lebih
mengetahui." Beliau bersabda, "Kamu menyebutkan tentang saudaramu
dengan sesuatu yang tidak disenanginya." Dikatakan kepada beliau,
"Bagaimana pendapatmu bila pada saudaraku memang benar ada yang aku
ucapkan?" Beliau bersabda, "Jika pada dirinya benar ada yang kamu ucapkan,
maka kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, dan jika pada dirinya tidak
terdapat sesuatu yang kamu ucapkan, maka kamu telah melakukan tuduhan dusta
terhadapnya." (HR. Muslim).
Dan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
"Ketika saya diangkat (pada
peristiwa isra' mi'raj), maka saya melewati kaum yang memiliki kuku dari
tembaga. Mereka mencakar wajah dan dada mereka. Saya bertanya, 'Siapakah mereka
wahai Jibril?' Jibril menjawab, 'Mereka adalah kaum yang memakan daging manusia
(maksudnya melakukan ghibah), dan merusak kehormatan mereka'." (HR. Abu Dawud).
Dalam hadits ini digambarkan dengan
jelas bahwa Allah menghukum orang yang melakukan ghibah. Mereka digambarkan
sebagai orang yang memakan daging manusia. Di akhirat nanti, mereka mencakar wajah
dan dada mereka.
Hadirin Sidang Jum’at Yang Kami
Hormati
Hukum ghibah adalah haram berdasarkan ijma' kaum muslimin. Dan telah jelas dalil-dalil yang sharih tentang keharamannya dari al-Kitab, as-Sunnah dan ijma'.
Allah Ta’ala berfirman,
Hukum ghibah adalah haram berdasarkan ijma' kaum muslimin. Dan telah jelas dalil-dalil yang sharih tentang keharamannya dari al-Kitab, as-Sunnah dan ijma'.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً
"Janganlah sebagian kamu
menggunjing sebagian yang lain."
(Al-Hujurat :12).
Dia juga berfirman,
Dia juga berfirman,
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ
"Kecelakaanlah bagi setiap
pengumpat lagi pencela."
(Al-Humazah: 1).
Al-Humazah bermakna, orang yang
mengumpat manusia dan dia menyakiti mereka dengan ketidakhadiran mereka,
sedangkan al-Lumazah bermakna orang yang mencela manusia dan menyakiti mereka
dengan kehadiran mereka. Dan mungkin al-Humazah adalah orang yang menyakiti
manusia dengan perkataannya, sedangkan al-Lumazah adalah orang yang menyakiti
mereka dengan perbuatan dan tindak-tanduknya, dan dalam riwayat lain dikatakan
maknanya adalah selain hal tersebut yang masih mencakup makna-makna ini.
Dia juga berfirman,
Dia juga berfirman,
هَمَّازٍ مَّشَّاء بِنَمِيمٍ
"Yang banyak mencela, yang kian
ke mari menghambur fitnah."
(Al-Qalam: 11).
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Kata-kata yang manis memang terbukti bisa menghipnotis manusia. Ia bisa menghanyutkan manusia dalam buaiannya. Pendapat ini bertitik tolak pada fitrah manusia yang selalu ingin dihargai atau bahkan dipuji. Tutur kata yang manis juga bisa memotivasi orang lain untuk berbuat baik dan meninggalkan perbuatan mungkar.
Kata-kata yang manis memang terbukti bisa menghipnotis manusia. Ia bisa menghanyutkan manusia dalam buaiannya. Pendapat ini bertitik tolak pada fitrah manusia yang selalu ingin dihargai atau bahkan dipuji. Tutur kata yang manis juga bisa memotivasi orang lain untuk berbuat baik dan meninggalkan perbuatan mungkar.
Sebuah kritikan yang tajam, namun
dibungkus dengan tutur kata yang halus lebih bisa diterima oleh orang yang
dikritik. Dan sebaliknya, penyampaian dakwah kebenaran secara vulgar dan kasar
kepada umat manusia terkadang akan berakibat sebaliknya. Metode tersebut tidak
hanya kurang efektif, bahkan bisa memunculkan sikap antipati dari objek dakwah.
Allah memberikan dalam kelembutan sesuatu yang tidak diberikanNya dalam
kekerasan.
Inti dakwah Islam adalah saling
nasihat menasihati, nasihat bagi Allah, Rasulullah, para pemimpin, dan kaum
muslimin. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Tolonglah saudaramu yang
zhalim dan dizhalimi." Dan cara menolong saudara yang zhalim adalah
menasihatinya agar tidak melakukan kezhaliman dan kemungkaran.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ.
"Sesungguhnya kelembutan,
tidaklah terdapat pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah ia
terlepas dari sesuatu melainkan ia akan menodainya." (HR. Muslim).
فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah
Kedua:
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Allah Ta’ala berfirman,
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ
"Sesungguhnya Rabbmu
benar-benar mengawasi."
(Al-Fajr: 14).
Makna ayat di atas adalah bahwa
Allah mendengar makhluk-Nya, dan melihat serta mengawasi perbuatan mereka serta
memberi masing-masing balasan sesuai dengan usahanya di dunia.
Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Abu Musa al-Asy'ari,
Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Abu Musa al-Asy'ari,
قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ الله ، أَيُّ الْمُسْلِمِيْنَ أَفْضَلُ؟ قَالَ: مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ.
"Saya bertanya, 'Wahai
Rasulullah, siapakah muslim yang paling utama?' Rasulullah menjawab, 'Seorang
muslim, yang mana kaum muslimin selamat dari (bahaya) lisan dan
tangannya'." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Jama'ah Jum'at yang Dimuliakan Allah
Khatib berharap mudah-mudahan Allah memberikan kita petunjuk untuk melaksanakan perintahNya dan melaksanakan kebaikan sesuai dengan syariat. Mudah-mudahan Allah menjadikan hari-hari kita penuh dengan amal shalih yang akan membawa kita kepada kebahagiaan dan ketenangan. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan hidayah pada segala urusan kita, khususnya dalam menjaga lisan kita dan memberikan petunjuk kepada kita semua dalam menapaki jalanNya yang lurus, jalan orang-orang yang Allah berikan nikmat kepada mereka, jalan para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada, serta orang-orang yang shalih, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang tersesat.
Khatib berharap mudah-mudahan Allah memberikan kita petunjuk untuk melaksanakan perintahNya dan melaksanakan kebaikan sesuai dengan syariat. Mudah-mudahan Allah menjadikan hari-hari kita penuh dengan amal shalih yang akan membawa kita kepada kebahagiaan dan ketenangan. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan hidayah pada segala urusan kita, khususnya dalam menjaga lisan kita dan memberikan petunjuk kepada kita semua dalam menapaki jalanNya yang lurus, jalan orang-orang yang Allah berikan nikmat kepada mereka, jalan para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada, serta orang-orang yang shalih, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang tersesat.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar