Minggu, 24 Juli 2011

Marhaban Ya Ramadhah

saudaraku kaum muslimin…

          Jika ada seorang tamu yang Anda cintai dan rindukan memberitahu bahwa ia akan datang, bagaimanakah perasaan Anda dan apa yang akan Anda lakukan?

         Tidak diragukan lagi, Anda akan senang dan berbahagia, kemudian Anda akan bersiap-siap menyambut kunjungan itu dan sedapat mungkin Anda akan merapikan diri, membersihkan rumah dan menyiapkan acara-acara yang menarik dalam rangka kunjungan itu.


Wahai saudaraku…

         Bagaimana jika tamu itu bukan saja Anda cintai, akan tetapi juga dicintai Allah , Rasul-Nya dan seluruh kaum muslimin? Bagaimana jika tamu ini selama tinggal bersarna kita, apalagi antara siang dan malamnya membawa kebaikan dan keberkahan?

         Tamu yang dirnaksud itu tidak lain adalah Ramadhan, bulan yang rnulia, bulan Al-Qur’an, bulan shi’am, bulan bertahajjud dan qiyamullail, bulan kesabaran dan takwa, bulan kasih sayang, ampunan dan terbebasnya hamba dari api neraka, bulan yang terdapat di dalamnya suatu malam yang lebih baik dan seribu bulan, bulan di mana syetan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka. Semoga Allah melimpahkan karunia-Nya kepada kita dan tidak berpisah dengan bulan itu kecuali ia telah menyucikan ruh dan jiwanya. Allah Ta'ala berfirman, artinya: “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu” (Asy-Syam: 9).


Kaum salaf (pendahulu) umat ini telah memahami betapa tinggi nilai tamu tersebut. Oleh karena itu, diriwayatkan bahwa mereka berdo’a memohon kepada Allah  agar mereka dipertemukan kembali dengan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya, dan apabila berpisah dengan bulan Ramadhan maka merekapun menangis dan berdo’a kepada       Allah  agar amal mereka pada bulan-bulan yang lain diterima, demikian seperti dinukil oleh  Ibnu Rajab rahimahullah

          Bagaimana Seharusnya Umat Islam Menyambut  Bulan Ramadhan..?

         Bagaimana Kita Menyambut Bulan ini. Untuk hal ini kami ringkaskan sebagai berikut: Dengan berdo’a, semoga Allah  memperpanjang umur kita sampai pada bulan Ramadhan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum salaf begitu pula memohon kepada Allah untuk diberi pertolongan dan kekuatan dalam menunaikan shaum, qjyamullail dan beramal shalih di dalamnya.


Allah  berfirman: “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kaini minta pertolongan" (Al-Fatihah: 5).


         Kebersihan dan kesucian, maksudnya adalah kebersihan ma'nawi yaitu taubat yang tulus dan sebenar-benannya dan segala dosa dan maksiat. Hal yang demikian itu wajib dilakukan setiap saat. Lalu kami ingatkan kepada para pelaku maksiat:

Pantaskah Anda menyambut hadiah dari Allah sedangkan Anda berada dalam keadaan tidak diridhai-Nya? Bagaimana Anda menunaikan shaum sedangkan Anda berbuka dengan sesuatu yang haram?


         Wahai orang yang meninggalkan shalat, bagaimana mungkin ibadah puasa Anda diterima, sedangkan Anda meninggalkan rukun Islam yang kedua, padahal orang yang meninggalkannya (dengan sengaja dan menganggap/meyakini bahwa shalat itu tidak   wajib) maka dihukumi kafir secara mutlak?


         Wahai pemakan riba, uang suap dan barang haram, bagaimana Anda melakukan shaum dan hal yang diperbolehkan sedangkan Anda berbuka dengan sesuatu yang haram?


Wahai pendurhaka kedua orang tua, bagaimana Anda dapat berpuasa dengan tenang sedangkan Rasulullah   melaknatmu dan malaikat Jibnil pun mengamininya?


         Wahai orang-orang yang meninggalkan kewajiban dan melakukan perbuatan haram seperti berzina, meminum minuman keras, berjudi, dan bergaul dengan orang-orang fasik dan lain-lainnya.

Belumkah Anda mendengar sabda Nabi  yang artinya: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan puasanya dari makan dan minum" (HR. Al Bukhari).


         Maka bertaubatlah dengan taubat yang tulus dan sebenar-benar taubat. Pintu taubat Alhamdulillah masih terbuka, dan taubat itu bukanlah sekedar meninggalkan perbuatan dosa, akan tetapi dengan mengembalikan hati dan hawa nafsu Anda kepada Dzat Yang Maha Mengetahui Alam Ghaib:

“Maka kembalilah kepada Allah.“ (Adz- Dzaniat: 50).


         Di antara persiapan jiwa dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, hendaknya Anda dengan sepenuh hati melakukan shaum sebaik­-baiknya dan beramal shalih pada  bulan Sya’ban. Sebab pada bulan Sya’ban ini segala amal perbuatan diangkat kepada Allah, sebagaimana sabda Rasululah  yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid.

"Rasulullah melakukan shaum sepanjang bulan Sya ‘ban atau melakukan shaum pada bulan itu kecuali beberapa hari saja beliau tidak melakukannya.” (HR. Al-Bukhani dan Muslim).


         Di antara masalah penting lainnya adalah bertafaqquh (berupaya memahami hukum-hukum shaum dan mengenal petunjuk Nabi) sebelum memasuki shaum; mempelajari syarat-syarat shaum, syarat sahnya, apa saja yang membatalkannya, hukum shaum pada hari yang diragukan, apa yang boleh, wajib atau haram dilakukan oleh seseorang yang sedang melakukan shaum, apa etika dan sunnah-sunnahnya, hukum- hukum qiyamullail berapa bilangan raka’atnya, hukum-hukum shaum bagi mereka yang berhalangan, baik karena safar (bepergian), sakit, hukum zakat fitrah dan lain sebagainya. Begitu pula mengenai petunjuk Nabi  dalam bulan Ramadhan yang bertalian dengan diri beliau, shaumnya, qiyamullalnya, hatinya, pemeliharaan dirinya serta keteladanan beliau dalam bertadarrus Al-Qur'an berkaitan dengan keluarga dan semua harus didahului dengan pemahaman sebelum mengamalkan.

Firman Allah , artinya: "Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu." (Muhammad: 19).


Dalam ayat di atas Allah  mewajibkan kepada kita untuk mengilmui terlebih dahulu sebelum perkataan dan perbuatan, lalu Nabi  bersabda yang artinya:  agama." (Mutaffaq ‘Alaih).



Mempersiapkan acara-acara menyambut 'tamu agung'. Hendaknya Anda, keluarga dan handai taulan  mempersiapkan diri dalam rangka memanfaatkan waktu yang ada selama kunjungan tamu tersebut dengan sebaik-baiknya. Di antaranya dengan membaca Al Qur’an, mempelajari kemudian menghafalnya, qiyamullail, memberi ifthar (buka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa, melakukan umrah, i’tikaf, dan berlomba-lomba dalam kebaikan dengan semangat fastabiqul khairat (benlomba-lomba dalam kebaikan), shadaqah, dzikir, penyucian jiwa dan lain sebagainya.


Saudaraku seiman yang saya cintai…

         Demikianlah ringkasan bagaimana kita menyambut bulan Ramadhan yang dapat kami kemukakan. Kita berdo’a semoga Allah berkenan memberi taufiq dan hidayah-Nya kepada kita agar dapat beramal shalih pada bulan Ramadhan.

         Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad  beserta keluarga dan para sahabatnya.



Pertanyaan. Apakah hikmah dari diwajibkannya Puasa ?

Jawaban
Apa bila kita membaca firman Allah
.
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa [Al-Baqarah : 183]
Pasti kita mengetahui apa hikmah diwajibkan puasa, yakni takwa dan menghambakan diri kepada Allah
, takwa adalah meninggalkan keharaman, istilah itu secara mutlak mengandung makna mengerjakan perintah, meninggalkan larangan, Nabi  bersabda.

Artinya : Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan mengerjakan kedustaan, maka Allah tidal butuh kepada amalannya dalam meninggalkan makanan dan minumannya.(Diriwayatkan oleh Bukhari : Kitab Shaum, Bab : Orang yang tidak meninggalkan kata-kata dusta, megerjakannya (1903))

                Berdasarkan dalil ini diperintahkan dengan kuat terhadap setiap yang berpuasa untuk mengerjakan segala kewajiban, demikian juga menjauhi hal-hal yang haram baik berupa perkataan maupun perbuatan, hendaknya dia tidak menggunjing orang lain, tidak berdusta, tidak mengadu domba antar mereka, tidak menjual barang jualan yang haram, menjauhi segala bentuk keharaman, apabila seorang manusia mengerjakan semua itu dalam satu bulan penuh maka itu akan memudahkannya kelak untuk berlaku baik di bulan-bulan tersisa dalam setahun.
                Tetapi alangkah sedihnya, sebagian besar orang yang berpuasa tidak membedakan antara hari puasa dengan hari berbuka, mereka tetap menjalani kebiasaan yang biasa dijalaninya yakni meninggalkan kewajiban, mengerjakan pebuatan haram, tidak merasakan keagungan puasa ; perbuatan ini tidak membatalkan puasa tetapi mengurangi pahalanya, seringkali kesalahan itu merusak pahala puasa sehingga tersia-sialah pahalanya.
[Disalin dari kitab Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit Pustaka Arafah]


<<Mutiara Hikmah Salaf >>

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah Rahimahullah berkata:’Menyia-nyaiakan waktu itu lebih berbahaya dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Alloh dan dari negeri akhirat, sedangkan kematian memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.’

Wallahu a’lam…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar